
Ceramah
8 October 20262245. Tanya Jawab | Riyaadhus Shaalihiin | Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri
Artikel ini membahas tentang sifat rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala yang luas kepada hamba-Nya sebagaimana terdapat dalam kitab Riyaadhush Shaalihiin. Fokus utamanya adalah memahami bahwa Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anaknya, yang seharusnya memotivasi kita untuk selalu berharap dan kembali kepada-Nya.
Islam adalah agama yang dibangun di atas fondasi rasa takut (khauf) dan rasa harap (raja') kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di antara pembahasan penting dalam meniti jalan menuju Allah adalah memahami betapa luasnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, sehingga seorang mukmin tidak berputus asa dari ampunan-Nya. ## Sifat Rahmat Allah yang Melampaui Kasih Sayang Seorang Ibu Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu anhu, dikisahkan kedatangan seorang Arab Badui kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang menanyakan perihal rahmat Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggambarkan bahwa Allah memiliki kasih sayang yang jauh lebih besar daripada seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Gambaran ini menunjukkan bahwa Allah bukanlah sosok yang mencari kesalahan hamba-Nya untuk disiksa, melainkan Zat yang sangat mencintai kebaikan bagi hamba-Nya. Kasih sayang Allah mendahului murka-Nya, sehingga setiap manusia sejatinya memiliki peluang besar untuk mendapatkan ampunan selama ia masih mau mengakui dosa dan bertaubat dengan tulus. ## Pentingnya Menjaga Keseimbangan antara Harap dan Takut Kehidupan seorang muslim harus senantiasa diseimbangkan dengan rasa takut dan harap. Jika seseorang hanya memiliki rasa takut tanpa rasa harap, ia akan jatuh ke dalam keputusasaan yang bisa membawanya pada kekufuran. Sebaliknya, jika hanya memiliki rasa harap tanpa rasa takut, ia akan terjerumus ke dalam kesombongan dan meremehkan dosa. Dengan memahami hadits tentang kasih sayang Allah ini, seorang hamba akan terdorong untuk selalu memperbaiki diri. Rasa harap yang benar bukanlah rasa harap yang melalaikan, melainkan rasa harap yang diiringi dengan ketaatan. Ketika kita menyadari bahwa Allah lebih sayang kepada kita daripada ibu kita sendiri, maka sudah sepantasnya kita malu untuk bermaksiat dan bersemangat untuk mencari keridaan-Nya. ## Menumbuhkan Sifat Harap di Tengah Ujian Hidup Seringkali ujian dunia membuat seseorang merasa jauh dari Allah atau merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Padahal, pintu rahmat Allah terbuka lebar bagi siapa saja yang mau mengetuknya. Mempelajari sifat-sifat Allah melalui wahyu-Nya akan mendatangkan ketenangan jiwa. Allah mencintai hamba-Nya yang senantiasa kembali kepada-Nya meski terjatuh berkali-kali ke dalam dosa. Oleh karena itu, janganlah pernah memandang rendah kasih sayang Allah yang maha luas. Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa setiap mukmin harus optimis dengan rahmat Allah, namun optimisme tersebut harus diwujudkan dalam amal saleh. Jadikanlah kasih sayang Allah sebagai bahan bakar untuk terus beribadah dan menjauhi larangan-Nya. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa serta berprasangka baik kepada-Nya hingga akhir hayat.
Sumber: Muhammad Nuzul Dzikri
Baca selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=Mf2WxFS42mk