
Ceramah
9 October 2026Mengapa 𝗞𝗛𝗔𝗪𝗔𝗥𝗜𝗝 Mengkafirkan 𝗔𝗟𝗜 𝗕𝗜𝗡 𝗔𝗕𝗜 𝗧𝗛𝗔𝗟𝗜𝗕? - Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily
Artikel ini membahas akar kesesatan kaum Khawarij yang mengkafirkan Ali bin Abi Thalib akibat perbedaan pandangan mengenai peristiwa tahkim. Pemahaman ini penting untuk diwaspadai karena pola pikir takfiri ekstrem tersebut masih menjadi ancaman bagi persatuan umat Islam di masa kini.
Sejarah Islam mencatat tragedi memilukan ketika kelompok Khawarij muncul sebagai benih kesesatan pertama yang berani mengkafirkan sahabat mulia, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Peristiwa ini bukan sekadar konflik politik biasa, melainkan cikal bakal lahirnya pemahaman ekstrem yang mengatasnamakan agama untuk menghalalkan darah sesama muslim. Memahami akar persoalan ini menjadi sangat krusial bagi setiap muslim agar terhindar dari virus pemikiran takfiri yang dapat merusak tatanan keislaman. ## Akar Permasalahan dalam Peristiwa Tahkim. Konflik bermula dari peristiwa tahkim atau perundingan damai yang dilakukan Ali bin Abi Thalib sebagai upaya untuk menghentikan pertumpahan darah antar kaum muslimin. Kelompok Khawarij dengan pemahaman yang dangkal dan kaku beranggapan bahwa hukum hanya milik Allah dan menolak proses perundingan tersebut. Mereka menuduh Ali telah berbuat dosa besar karena menerima tahkim manusia, sehingga dengan logika yang melenceng, mereka menghukumi Ali telah keluar dari Islam atau kafir. Hal ini menunjukkan bahaya besar ketika seseorang menafsirkan teks agama tanpa bimbingan ilmu yang benar dan hanya mengandalkan fanatisme buta serta hawa nafsu. ## Bahaya Pemahaman Takfiri yang Menyimpang. Pola pikir kaum Khawarij adalah melakukan takfir atau pengkafiran secara serampangan terhadap orang lain yang berbeda pendapat, terutama mereka yang dianggap berdosa besar. Kelompok ini tidak hanya berhenti pada keyakinan, tetapi mereka juga mewujudkan kebencian tersebut dalam bentuk tindakan fisik yang radikal. Sifat utama dari kelompok ini adalah mereka memiliki ibadah yang tampak rajin, namun pemahaman mereka tidak sampai ke dalam hati. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberikan peringatan bahwa kelompok ini akan membaca Al-Qur'an namun bacaan tersebut tidak melewati kerongkongan mereka, yang bermakna bahwa mereka tidak memahami hakikat syariat secara mendalam dan hikmah yang terkandung di dalamnya. ## Meneladani Manhaj Salaf dalam Menyikapi Perbedaan. Untuk membentengi diri dari kesesatan Khawarij, setiap muslim wajib berpegang teguh pada manhaj Salafush Shalih. Dalam menghadapi perselisihan, para sahabat dan ulama terdahulu selalu mengedepankan ketaatan kepada pemimpin selama tidak dalam kemaksiatan, serta berhati-hati dalam memberikan vonis kafir kepada sesama muslim. Mengkafirkan orang lain adalah perkara yang sangat berat karena menyangkut hak Allah dan memiliki konsekuensi hukum yang serius dalam Islam. Kita perlu berilmu sebelum berucap dan bertindak agar tidak terjerumus dalam pola pikir ekstrem yang justru melemahkan barisan umat Islam sendiri. Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa sikap mudah mengkafirkan sesama muslim adalah tanda kesesatan yang nyata dan jauh dari petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mari kita senantiasa memohon petunjuk kepada Allah agar hati kita dijaga dari sikap ghuluw atau berlebih-lebihan dalam beragama. Mempelajari sejarah Khawarij bukan untuk memecah belah, melainkan sebagai peringatan keras agar kita selalu mengedepankan ilmu, hikmah, dan persatuan dalam menjalani syariat Islam yang lurus.
Sumber: ShahihFiqih
Baca selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=8T3jStvWidM