07:24
Sub05:31
Dzu12:57
Ash15:53
Mag18:27
Isy20:09
1j 47m 51d
16:39:09
PERILAKU KAUM SODOM DARI DULU SAMPAI SEKARANG MASIH SAMA - KHALID BASALAMAH
Ceramah
9 October 2026

PERILAKU KAUM SODOM DARI DULU SAMPAI SEKARANG MASIH SAMA - KHALID BASALAMAH

Artikel ini mengulas kisah kaum Nabi Luth 'alaihissalam sebagai peringatan akan bahaya perbuatan keji yang melanggar syariat Allah. Penulis menekankan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh tren atau banyaknya orang yang melakukan maksiat, sehingga umat Islam wajib berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Kisah umat Nabi Luth 'alaihissalam merupakan salah satu pelajaran sejarah paling kelam sekaligus krusial dalam peradaban manusia. Di tengah arus perubahan zaman, perilaku menyimpang yang dahulu menghancurkan kaum Nabi Luth kini kembali muncul dengan berbagai wajah di tengah masyarakat. Sebagai umat Islam yang berpegang teguh pada manhaj Salaf, kita wajib memahami bahwa syariat Allah ﷻ bersifat kekal dan tidak akan pernah berubah mengikuti keinginan hawa nafsu manusia maupun tren zaman. Artikel ini akan membahas esensi dari kemaksiatan kaum Nabi Luth dan mengapa seorang Muslim harus tetap teguh menjaga kehormatan serta fitrahnya. ## Perbuatan Keji yang Melampaui Batas Fitrah. Allah ﷻ mengutus Nabi Luth 'alaihissalam untuk memperingatkan kaumnya atas perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapapun di dunia sebelumnya. Perilaku menyimpang ini merusak fitrah manusia dan tatanan sosial yang telah Allah tetapkan. Dalam QS Al-A'raf ayat 80, Allah ﷻ menegaskan keheranan Nabi Luth terhadap kaumnya yang melakukan perbuatan tersebut, yang menunjukkan bahwa penyimpangan ini adalah bentuk kedurhakaan besar yang sangat dibenci oleh Sang Pencipta. ## Penolakan Terhadap Kebenaran dan Sikap Merasa Suci. Salah satu tantangan terbesar dalam berdakwah adalah ketika pelaku maksiat justru memutarbalikkan fakta. Kaum Nabi Luth, alih-alih menerima nasihat, justru memerintahkan Nabi Luth dan para pengikutnya untuk diusir dari negeri mereka. Mereka menganggap orang-orang beriman yang berusaha menjaga kesucian sebagai pihak yang dianggap suci secara sarkas, sebagaimana tercantum dalam QS Al-A'raf ayat 82. Sikap ini mencerminkan fenomena saat ini di mana orang-orang yang mengingatkan pada kebenaran sering kali dicemooh atau dianggap sebagai golongan yang kaku atau tidak toleran. ## Hukum Allah Tidak Bergantung pada Popularitas. Di era modern, banyak yang berargumen bahwa suatu perbuatan adalah hal wajar karena telah dilakukan oleh banyak orang atau telah dianggap lumrah oleh standar sosial tertentu. Namun, dalam pandangan Islam, kebenaran mutlak berasal dari wahyu Allah ﷻ dan Rasul-Nya, bukan dari konsensus manusia. Banyaknya pelaku kemaksiatan tidak sedikit pun mengubah hukum Allah; haram tetaplah haram meskipun seluruh dunia sepakat untuk melanggarnya. Menjadi mukmin yang sejati berarti berani bersikap teguh dalam kebenaran meskipun harus berjalan sendirian di tengah arus maksiat. Kesimpulan dari kisah ini adalah perlunya kewaspadaan diri terhadap setiap bentuk penyimpangan yang tampak di hadapan kita. Janganlah kita merasa aman dari murka Allah ﷻ hanya karena kemaksiatan terlihat biasa dilakukan orang banyak. Hendaknya kita senantiasa memohon keteguhan iman, menjaga kehormatan diri dan keluarga, serta terus memperdalam ilmu agama agar tidak mudah tergelincir. Semoga Allah ﷻ senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk terus berada di jalan-Nya yang lurus dan melindungi kita dari fitnah yang menyesatkan.

ﷲ
CintaIslam.com

Portal Dakwah — Menyebarkan ilmu yang bermanfaat berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih.

Kontak

Email: info@cintaislam.com
WhatsApp: +62 812-1712-3388

© 2026 CintaIslam.com