
Ceramah
9 October 2026263. | Tadzkiratus saami' | Ustad Muhammad Nuzul Dzikri
Artikel ini membahas pentingnya adab dalam menuntut ilmu berdasarkan kitab Tadzkiratus Saami'. Fokus utamanya adalah pembentukan akhlak mulia seorang penuntut ilmu serta hakikat ilmu yang bermanfaat bagi agama.
Menuntut ilmu merupakan ibadah agung yang menuntut persiapan jiwa dan raga. Dalam kitab Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu tidak hanya dituntut untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga harus menghiasi dirinya dengan adab yang luhur agar ilmunya membuahkan keberkahan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. ## Hakikat Niat dalam Menuntut Ilmu Niat merupakan fondasi utama sebelum memulai perjalanan menuntut ilmu. Seorang pelajar harus membersihkan hatinya dari tujuan-tujuan duniawi yang rendah seperti mengharap pujian manusia, jabatan, atau kekayaan. Ilmu adalah cahaya yang hanya akan menetap di dalam hati yang ikhlas dan bersih. Ketika niat diarahkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan mengangkat kebodohan dari diri sendiri serta orang lain, maka ilmu tersebut akan menjadi penuntun menuju surga. Sebaliknya, ilmu yang dicari dengan niat yang salah akan menjadi bumerang bagi pemiliknya di hari kiamat kelak. ## Pentingnya Menjaga Adab terhadap Guru Menuntut ilmu bukanlah sekadar transfer informasi, melainkan proses pendidikan karakter yang memerlukan hubungan harmonis antara murid dan guru. Murid diwajibkan untuk menunjukkan rasa hormat dan tawadhu kepada guru mereka. Menghormati guru adalah bentuk pengagungan terhadap ilmu itu sendiri. Hal ini mencakup cara berbicara yang sopan, mendengarkan dengan seksama saat guru menjelaskan, serta tidak memotong pembicaraan. Kesuksesan seorang penuntut ilmu sangat bergantung pada keridhaan gurunya, sebab barakah ilmu seringkali tercurah melalui doa dan bimbingan guru yang merasa dihargai oleh muridnya. ## Membangun Kedisiplinan dan Kesungguhan Perjalanan menuntut ilmu memerlukan ketekunan yang tinggi karena tidak ada jalan pintas untuk mencapai pemahaman agama yang mendalam. Seorang penuntut ilmu harus bersabar dalam menghadapi keletihan, rasa bosan, maupun kesulitan dalam memahami materi. Kedisiplinan dalam mengatur waktu serta konsistensi dalam mengulang pelajaran menjadi pembeda antara mereka yang berhasil dengan mereka yang berhenti di tengah jalan. Tanpa kesungguhan, ilmu hanya akan menjadi wacana di permukaan tanpa pernah meresap ke dalam sanubari untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memperbaiki niat dan membenahi adab dalam setiap langkah menuntut ilmu. Ilmu yang bermanfaat bukan diukur dari banyaknya kitab yang dibaca atau gelar yang diraih, melainkan seberapa besar ilmu tersebut mampu mengubah perilaku kita menjadi lebih takut kepada Allah dan lebih baik dalam berinteraksi dengan sesama. Semoga Allah SWT memberikan kita taufik untuk senantiasa istiqamah di atas jalan ilmu yang diberkahi-Nya.
Sumber: Muhammad Nuzul Dzikri
Baca selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=je2ZojFnvNo