07:14
Sub05:37
Dzu12:56
Ash16:05
Mag18:35
Isy20:02
23m 9d
15:41:51
[LIVE] Ustaz Abdurrahman Thoyyib, Lc. | 'Āqīdah Ahlil-Islām fīmā Yajibu lil-Imām
Ceramah
10 October 2026

[LIVE] Ustaz Abdurrahman Thoyyib, Lc. | 'Āqīdah Ahlil-Islām fīmā Yajibu lil-Imām

Artikel ini mengupas aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengenai kewajiban seorang Muslim terhadap pemimpin dalam Islam. Pembahasan ini menekankan pentingnya ketaatan kepada penguasa dalam perkara kebaikan sebagai landasan terciptanya stabilitas dan kemaslahatan umat.

Dalam kehidupan beragama, stabilitas sosial dan keamanan masyarakat sangat bergantung pada hubungan yang harmonis antara pemimpin dan rakyatnya. Sebagai umat Islam yang berpegang teguh pada manhaj Salaf, kita diperintahkan untuk memahami kedudukan pemimpin dan batasan kewajiban kita terhadap mereka sesuai dengan tuntunan syariat. Memahami aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah tentang kewajiban terhadap imam atau pemerintah adalah bentuk ibadah yang menjaga kesatuan umat dan mencegah perpecahan yang merusak tatanan agama dan duniawi. ## Kewajiban Mendengar dan Taat dalam Kebaikan. Prinsip dasar dalam berinteraksi dengan pemerintah adalah kewajiban untuk mendengar dan taat kepada mereka selama perintah tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan ini bukan didasarkan pada kesukaan pribadi atau kepuasan terhadap sosok pemimpin, melainkan sebagai bentuk ketaatan kepada perintah syariat untuk menjaga persatuan. Seorang Muslim diperintahkan untuk tetap patuh dalam perkara-perkara yang bersifat keduniaan dan administratif, karena dengan ketaatan inilah kemaslahatan umum dapat terjaga. Jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan, maka kewajiban ketaatan tersebut gugur dalam poin kemaksiatan itu saja, namun bukan berarti kita dibenarkan untuk memberontak atau melepaskan diri dari ketaatan secara total. ## Larangan Memberontak terhadap Penguasa. Aqidah Ahlus Sunnah sangat menekankan larangan untuk melakukan khuruj atau pemberontakan terhadap pemimpin, meskipun pemimpin tersebut melakukan kezaliman. Sejarah telah membuktikan bahwa upaya penggulingan kekuasaan dengan cara kekerasan, demonstrasi anarkis, atau kudeta justru seringkali membawa mudharat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kezaliman penguasa itu sendiri. Kerusakan tatanan sosial, pertumpahan darah, dan hilangnya keamanan adalah dampak buruk yang ingin dihindari oleh syariat. Kesabaran dalam menghadapi kezaliman penguasa dan menempuh jalur nasehat yang santun sesuai dengan adab Islam adalah sikap yang diperintahkan, dengan tetap meyakini bahwa perubahan yang hakiki dimulai dari perbaikan diri umat itu sendiri. ## Menasehati Pemimpin dengan Cara yang Baik. Meskipun kita diwajibkan untuk taat dan bersabar, bukan berarti kita dilarang untuk mengingatkan pemimpin akan kebenaran. Namun, cara yang diajarkan dalam Islam sangatlah mulia dan jauh dari kesan provokatif. Nasehat kepada penguasa hendaknya dilakukan secara rahasia, empat mata, dan dengan bahasa yang penuh penghormatan, bukan melalui media sosial atau mimbar terbuka yang justru menimbulkan fitnah dan memperkeruh suasana. Mengingatkan penguasa adalah wujud kasih sayang seorang Muslim agar pemimpinnya tetap berada di atas jalan kebenaran dan keadilan. Sebagai kesimpulan, kewajiban kita sebagai rakyat adalah mendoakan kebaikan bagi pemimpin, senantiasa taat dalam ketaatan kepada Allah, dan bersabar dalam menghadapi ujian kepemimpinan. Marilah kita senantiasa menjaga lisan dan perbuatan kita dari tindakan yang dapat memicu perpecahan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memperbaiki keadaan pemimpin kita dan memberikan taufik kepada umat Islam untuk selalu bersatu di atas sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

ﷲ
CintaIslam.com

Portal Dakwah — Menyebarkan ilmu yang bermanfaat berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih.

Kontak

Email: info@cintaislam.com
WhatsApp: +62 812-1712-3388

© 2026 CintaIslam.com