
Ceramah
10 October 2026Bahagia Yang 𝗕𝗘𝗥𝗟𝗘𝗕𝗜𝗛𝗔𝗡 Atas 𝗞𝗘𝗟𝗔𝗛𝗜𝗥𝗔𝗡 𝗔𝗡𝗔𝗞 𝗟𝗔𝗞𝗜-𝗟𝗔𝗞𝗜 Termasuk Haram? - Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri
Artikel ini membahas mengenai fenomena sikap berlebihan dalam menyambut kelahiran anak laki-laki dibandingkan anak perempuan yang sering terjadi di masyarakat. Penjelasan Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri menegaskan bahwa setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, adalah karunia Allah yang wajib disyukuri dengan cara yang adil dan benar sesuai tuntunan syariat.
Kelahiran seorang anak merupakan momen yang sangat dinantikan oleh setiap orang tua. Kehadiran buah hati di tengah keluarga adalah bentuk amanah sekaligus anugerah besar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, di tengah masyarakat kita, sering kali muncul fenomena psikologis di mana kelahiran anak laki-laki disambut dengan euforia atau rasa bahagia yang jauh lebih besar dibandingkan kelahiran anak perempuan. Fenomena ini perlu ditinjau kembali dari kacamata syariat agar setiap muslim dapat menyikapi karunia Allah dengan bijak dan adil tanpa terjebak dalam prasangka jahiliyah. ## Kedudukan Anak sebagai Karunia Allah Yang Setara. Dalam pandangan Islam, seorang anak adalah ujian sekaligus perhiasan dunia. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membedakan kemuliaan seorang hamba berdasarkan jenis kelaminnya, melainkan berdasarkan ketakwaan. Menganggap anak laki-laki lebih berharga daripada anak perempuan merupakan cerminan pola pikir yang keliru. Sebagaimana yang dijelaskan dalam prinsip-prinsip syariat, sikap membeda-bedakan anak secara berlebihan berdasarkan gender dapat menjerumuskan orang tua pada sikap diskriminatif yang dibenci oleh agama. Setiap anak memiliki hak yang sama untuk dicintai, dididik, dan diberikan kasih sayang yang utuh tanpa syarat. ## Bahaya Sikap Berlebihan dalam Menyambut Anak. Rasa bahagia atas kelahiran anak adalah hal yang manusiawi dan dianjurkan, namun ekspresi kebahagiaan tersebut tidak boleh melampaui batas syariat. Sikap berlebihan, apalagi jika disertai dengan penampakan rasa kecewa saat dikaruniai anak perempuan, adalah sikap yang mencela ketetapan Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan karunia sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya yang tidak terbatas. Mengagungkan anak laki-laki secara berlebihan dan merendahkan atau menganggap kurang anak perempuan adalah perilaku yang menyerupai kebiasaan orang-orang jahiliyah yang merasa hina saat memiliki anak perempuan. Islam datang untuk menghapus stigma tersebut dan mengangkat derajat perempuan ke posisi yang terhormat. ## Mengedepankan Keadilan dan Rasa Syukur. Kewajiban utama orang tua setelah kelahiran sang buah hati adalah bersyukur kepada Allah dan melaksanakan ibadah yang disyariatkan, seperti aqiqah. Dalam melaksanakan aqiqah, meski terdapat perbedaan teknis dalam jumlah hewan yang disembelih sesuai sunnah, hal ini tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan diskriminasi kasih sayang. Kasih sayang orang tua harus terdistribusi secara merata. Keberkahan dalam keluarga justru muncul saat orang tua menerima segala bentuk pemberian Allah dengan lapang dada dan penuh syukur. Hendaklah setiap muslim menyadari bahwa anak yang saleh atau salehah, terlepas dari jenis kelaminnya, adalah investasi akhirat bagi orang tuanya. Sebagai kesimpulan, kebahagiaan dalam menyambut kelahiran anak haruslah bersandar pada ketaatan kepada Allah, bukan pada hawa nafsu atau tradisi masyarakat. Janganlah kita mengukur nilai seorang anak berdasarkan jenis kelamin, karena Allah-lah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Marilah kita didik anak-anak kita dengan pendidikan yang baik dan penuh kasih sayang, karena setiap anak adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Bersyukurlah dengan cara yang adil dan hindarilah sikap berlebihan yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sumber: ShahihFiqih
Baca selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=f6bZ4jPcfGU