07:35
Sub05:56
Dzu12:55
Ash15:48
Mag18:12
Isy19:41
7j 45m 16d
22:10:44
Apa yang Kita Lakukan dengan Kehormatan yang Diberikan Islam kepada Perempuan? (Bag. 2)
Nasihat
30 October 2026

Apa yang Kita Lakukan dengan Kehormatan yang Diberikan Islam kepada Perempuan? (Bag. 2)

Artikel ini membahas tentang kemuliaan perempuan dalam Islam yang diukur dari ketakwaan, bukan dari penilaian manusia atau popularitas media sosial. Penulis menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri melalui ketaatan kepada Allah, hijab yang syar'i, serta tanggung jawab bersama antara laki-laki dan perempuan dalam menjaga pandangan dan moral.

Toggle

Islam tidak sekedar berbicara tentang kehormatan, tetapi mengaturnya

Setelah mengetahui berbagai bentuk ketidakadilan yang dialami perempuan pada masa jahiliyah, muncul sebuah pertanyaan:

“Lantas, apa yang sebenarnya diberikan Islam kepada perempuan?”

Islam tidak hanya berbicara tentang kehormatan dalam bentuk nasihat. Islam juga memberikan aturan yang menjaga kehormatan tersebut.

Perempuan memiliki kehormatan sebagai manusia

Kemuliaan seseorang dalam Islam tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya, kecantikan fisiknya, kekayaan, atau status sosialnya. Oleh karena itu, nilai seorang muslimah tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia memperhatikannya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaan. Artinya, nilai seorang muslimah tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia memperhatikannya.

Anak perempuan bukan aib

Islam mengubah cara pandang terhadap anak perempuan. Ia bukan kehinaan. Ia bukan beban. Ia adalah amanah. Bahkan, terdapat berbagai hadis yang menjelaskan keutamaan mendidik dan merawat anak perempuan dengan baik.

Salah satunya, hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha , di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“ Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi pelindung baginya dari api neraka.” (HR. Muslim no. 2629)

Dengan demikian, keberadaan seorang anak perempuan bukan sesuatu yang harus diratapi, melainkan amanah yang dapat menjadi jalan kebaikan dan pahala bagi orang tuanya.

Perempuan memiliki hak atas harta

Islam menetapkan hak perempuan dalam perkara warisan dan harta. Ini bukan sekadar pengakuan bahwa perempuan memiliki nilai, tetapi juga memberikan konsekuensi hukum atas hak tersebut.

Hijab sebagai bagian dari kehormatan

Hijab bukan sekadar identitas sosial. Bagi seorang muslimah, menutup aurat merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, pembahasan tentang hijab seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:

“Bagaimana aku terlihat di hadapan manusia?”

Tetapi juga:

“Bagaimana aku menjalankan apa yang Allah perintahkan?”

Hijab pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang ingin dilihat. Ia juga tentang bagaimana seorang hamba memilih untuk menaati Rabb-nya.

Perempuan memiliki peran yang mulia

Islam tidak menjadikan perempuan sebagai manusia tanpa peran. Ia dapat menjadi seorang anak yang berbakti, seorang istri yang baik, seorang ibu yang mendidik generasi, seorang penuntut ilmu, seseorang yang berkarya, dan memiliki berbagai peran lain yang bermanfaat.

Kemuliaan seorang wanita tidak harus selalu diwujudkan dengan satu bentuk yang sama. Yang menjadi dasar adalah bagaimana peran tersebut dijalankan dalam ketaatan kepada Allah.

Ketika kehormatan bertemu dengan budaya “ingin dilihat”

Sekarang, kita hidup di dalam budaya yang sangat visual, di mana seseorang dapat memperoleh perhatian hanya dengan beberapa detik. Berawal dari sebuah foto, kemudian sebuah video, lalu muncul sebuah like , sebuah komentar, sebuah pujian. Dan tanpa sadar, perhatian manusia bisa berubah menjadi ukuran harga diri.

“Apakah aku cukup cantik?”

“Apakah orang menyukaiku?”

“Berapa banyak yang melihatku?”

“Mengapa ‘ postinganku’ tidak mendapat banyak perhatian?”

Padahal, ada pertanyaan yang lebih penting:

“Apakah yang aku lakukan diridai Allah?”

Perbedaannya mungkin terlihat sederhana. Tetapi, sebenarnya sangat besar. Karena ketika manusia menjadi tujuan utama, kita akan terus membutuhkan penilaian manusia. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini mendapatkan perhatian, besok perhatian itu berpindah kepada orang lain.

Tetapi ketika rida Allah menjadi tujuan, nilai sebuah amal tidak bergantung pada berapa banyak manusia yang melihatnya.

Ketika penampilan berubah menjadi pencarian validasi

Tidak semua bentuk memperindah diri adalah hal yang tercela. Islam tidak melarang seorang wanita untuk tampil bersih, rapi, cantik, atau merawat dirinya.

Yang perlu dijaga adalah ketika penampilan dan perhiasan berubah menjadi sarana untuk mencari perhatian yang tidak semestinya dan melewati batasan syariat.

Tabarruj bukan sekadar persoalan apakah seseorang menggunakan pakaian yang indah atau tidak. Pembahasannya berkaitan dengan bagaimana seorang perempuan menampakkan perhiasan dan keindahannya dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat.

“Apakah aku terlihat menarik?”

Tetapi,

“Untuk siapa aku ingin terlihat menarik?”

Dan lebih jauh lagi,

“Apakah cara aku menampilkan diriku sudah sesuai dengan batas yang Allah tetapkan?”

Kehormatan tidak hilang dalam satu hari. Kehormatan sering kali tidak runtuh karena satu keputusan. Terkadang ia terkikis sedikit demi sedikit. Lalu perlahan kita terbiasa mencari penilaian manusia. Padahal manusia akan selalu berubah.

Tetapi Allah mengetahui setiap pilihan yang kita pilih. Maka, jangan jadikan sesuatu yang sementara sebagai ukuran dari sesuatu yang begitu berharga, yaitu kehormatan diri.

Menjaga kehormatan bukan tanggung jawab perempuan saja

Ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan. Menjaga kehormatan dalam Islam bukan hanya tanggung jawab perempuan. Laki-laki juga memiliki kewajiban untuk menjaga dirinya.

Allah Ta’ala terlebih dahulu memerintahkan orang-orang beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَـٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)

Kemudian Allah memberikan perintah kepada kaum wanita untuk menjaga pandangan dan kehormatan mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَـٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَـٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّـٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai hasrat (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Artinya, Islam tidak meletakkan seluruh beban penjagaan moral hanya kepada perempuan. Laki-laki memiliki tanggung jawab. Perempuan memiliki tanggung jawab. Keduanya memiliki batas yang harus dijaga. Keduanya memiliki kehormatan yang harus dipelihara.

Maka ketika membicarakan tentang kehormatan wanita, kita juga perlu belajar untuk tidak menjadikan perempuan sebagai satu-satunya pihak yang disalahkan.

Jadi, apa arti kemuliaan seorang muslimah?

Arti kemuliaan seorang muslimah bukan dari berapa banyak laki-laki yang memperhatikannya, berapa banyak pengikutnya, berapa banyak pujian yang diterimanya, atau seberapa sering namanya muncul di media sosial.

Tetapi, kemuliaan seorang muslimah berkaitan dengan seberapa dekat ia dengan Allah , seberapa kuat ia menjaga batas yang Allah tetapkan, dan seberapa teguh ia mempertahankan prinsip ketika tidak ada manusia yang melihat.

Mungkin ada di antara kita yang pernah salah. Pernah mencari perhatian manusia. Pernah mengunggah sesuatu yang kemudian kita sesali. Pernah lalai terhadap batas yang Allah tetapkan.

Tetapi kesalahan masa lalu tidak harus menjadi akhir perjalanan. Selama Allah masih memberikan kita waktu, pintu tobat masih terbuka. Tidak ada manusia yang selalu sempurna. Yang membedakan adalah siapa yang mau kembali ketika menyadari dirinya telah berjalan terlalu jauh.

Maka jika hari ini kita merasa telah jauh dari nilai-nilai yang Allah ajarkan, jangan berhenti pada rasa bersalah.

Kembalilah, wahai saudariku.

Perbaiki sedikit demi sedikit. Perbaiki cara berpakaian. Perbaiki cara berbicara. Perbaiki apa yang kita tampilkan. Dan yang paling penting, perbaiki hubungan kita dengan Allah. Karena kemuliaan seorang muslimah tidak lahir dari seberapa banyak manusia melihatnya. Namun, kemuliaan itu lahir ketika ia tahu siapa yang paling layak untuk ia cari rida-Nya.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

- Al-Quran beserta tafsirnya yang diambil dari tafsirweb.net

- Teks hadis yang diambil dari sunnah.com

Lisa Almira

Penulis muslimah.or.id

ﷲ
CintaIslam.com

Portal Dakwah — Menyebarkan ilmu yang bermanfaat berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih.

Kontak

Email: info@cintaislam.com
WhatsApp: +62 812-1712-3388

© 2026 CintaIslam.com