
Ceramah
30 October 2026Ushul Dakwah Salafiyah: Pokok Ketiga, Dakwah kepada Allah dengan Ilmu - Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.
Dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu merupakan pokok ketiga dalam manhaj dakwah Salafiyah yang harus didahului dengan menuntut ilmu dan mengamalkannya. Dakwah memiliki kedudukan yang sangat agung karena menjadi sarana untuk membedakan antara petunjuk dan kesesatan serta merupakan kewajiban para rasul dan pengikutnya hingga hari kiamat.
Dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas landasan ilmu pengetahuan merupakan salah satu pilar utama dalam manhaj dakwah Salafiyah. Seorang penuntut ilmu tidaklah memulai dakwahnya kecuali setelah ia bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu syar’i dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Urutan ini menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi yang tidak bisa ditawar bagi siapa pun yang ingin mengajak manusia ke jalan Allah.
Urgensi Dakwah kepada Allah
Dakwah kepada Allah memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia dalam agama Islam. Manusia sangat membutuhkan dakwah ini agar mereka tidak tersesat dalam kegelapan kebodohan. Sebagaimana dijelaskan oleh Fadhilatus Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah dalam kitab beliau, dakwah adalah sarana untuk menjelaskan kepada manusia mana yang merupakan petunjuk dan mana yang kesesatan, mana kebenaran dan mana kebatilan, serta mana perbaikan dan mana kerusakan. Dakwah adalah tugas mulia yang diemban oleh para rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam dan diteruskan oleh para pengikut mereka yang setia hingga hari kiamat.
Landasan Dakwah di Atas Ilmu
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan Rasul-Nya untuk berdakwah di atas bashirah atau ilmu yang nyata. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Qul haadzihii sabiilii ad'uu ilallaahi 'alaa bashiiratin ana wa manittaba'anii wa subhaanallaahi wa maa ana minal musyrikiin
Katakanlah, "Inilah jalanku, aku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (ilmu yang nyata), aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik."
QS. Yusuf: 108
Ayat ini menjadi dalil utama bahwa dakwah yang benar harus dibangun di atas ilmu. Seseorang tidak boleh berdakwah berdasarkan perasaan, prasangka, atau sekadar ikut-ikutan. Ilmu adalah cahaya yang akan meluruskan ucapan dan perbuatan seorang da’i. Tanpa ilmu, dakwah justru berpotensi membawa kerusakan dan menjauhkan manusia dari jalan yang lurus.
Mengamalkan Dakwah dengan Ilmu
Cara mengamalkan prinsip ini adalah dengan memastikan bahwa setiap materi yang disampaikan dalam dakwah memiliki landasan dalil yang shahih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para sahabat. Seorang da’i harus terus belajar, memperbaiki niatnya agar ikhlas karena Allah, dan bersabar dalam menyampaikan kebenaran. Dakwah bukan sekadar retorika, melainkan penyampaian risalah Allah dengan cara yang hikmah dan berlandaskan pemahaman yang benar.
Sebagai penutup, marilah kita menyadari bahwa dakwah adalah tanggung jawab besar. Hendaknya setiap muslim, khususnya para penuntut ilmu, memperhatikan urutan yang benar dalam beragama: belajar, mengamalkan, lalu mendakwahkan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk senantiasa istiqamah di atas jalan dakwah yang lurus sesuai dengan manhaj Salafus Shalih.
Sumber: Rodja Live
Baca selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=tjsSfysiLFU